Tampilkan postingan dengan label CORAT-CORET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CORAT-CORET. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Januari 2018

Bagaimana Bisa ?

Malamku selalu diisi oleh pikiran tentangmu. Wajahmu. Senyummu. Cara kau memperlakukan aku.
Aku lebih suka menutup mata karna aku bebas berkhayal tentanmu. Menikmati setiap detik bersamamu, berjalan sambil berpegang tangan. Bercerita tanpa takut habis waktu. Entahlah yang kufikirkan hari ini, kemarin, dan kemarin hanya untuk mengembalikanmu kembali.

Cinta itu katanya sederhana. Tapi aku tak merasa bahwa dengan doa cintaku bisa tumbuh disampingku dan menjadi milikku. Membiarkanmu menghilang hanya menjadi ketakutanku tersendiri. Kau mudah berlalu. Kau muda menghilang. Kau pergi memilih dengan caramu. Bagaimana bisa kau memilih tanpa melihat perjuanganku ?

Aku selalu ingin tau sedang apa kau saat ini.
Aku yang selalu tak memperdulikan cinta selainmu.
Aku yang bahkan rela melewati jarak sejauh apapun untuk menemuimu bahkan tanpa kau suruh dan kau paksa.
Perjuanganku hanya kasat mata bagimu. Bagaimana mungkin perjuangaku seolah-olah kalah dengan wanita lain yang hanya rela menempuh beberapa jam jarak untuk menemuimu ?
apakah dia mendoakanmu ?
apakah cintanya sebesar cintaku ?
apakah perjuanganyya melebihi perjuanganku ?
apakah dia lebih tangguh daripada aku ?

Sesakit apapun kau menyakitiku bahkan aku akan tetap memperjuankanmu. Taukah kau apa hal yang paling aku takutkan ?

Hal yang paling aku takutkan adalah saat aku membuka mata , aku harus menerima kenyataan bahwa kau benar-benar memilih dia, sementara aku telah menghabiskan waktuku berjuang untukmu. Aku wanita yang berjuang sendiri mempertahankan takdir yang kumau, sementara kau tak bermaksud menyakitiku namun perlahan menusuk dalam diam. Kau boleh bangga jika menemukan wanita yang lebih tangguh daripada aku. Aku akan ikhlas jika kau lebih memilih seseorang yang berjuang melebihi diriku.

Jumat, 27 Mei 2016

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangan



Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana. Menikmati suasana pantai dan terhanyut dalam suara deburan ombak. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon cemara, ditemani  matahari dan angin sepoi-sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh-selamanya.


Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari-hari kita, seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan.


Aku rebah di tanah, memejamkan mata kuat-kuat karena air mata yang menderas. “aku tak akan pergi,” bisikmu selirih angin sore, tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti kau benar-benar tiada?

Minggu, 22 Mei 2016

Sedingin apapun engkau



Waktu itu aku memutuskan untuk datang. Rumah ini terasa asing. Sepi. Tak kurasakan kehangatan dan keramaian seperti dulu. Pohon rambutan tempatku bermain kulihat tak berbuah. Pohon-pohon singkong di depan rumah yang menjadi saksi bahwa pada waktu itu bapak masih disini tak lagi ada. hanya ada pemandangan tanah-tanah tandus karna lama tak tersentuh hujan. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Pada saat itu pintu terbuka. Aku memanggil-manggil namamu, tapi tak kutemukan satu orang pun disini. Aku menunggu lama. Waktu itu aku memutuskan untuk pulang saja. Aku putus asa. Saat aku beranjak pulang, aku mendengar suara langkah yang rapuh. Aku berjalan mendekat. Meski pandangan mataku tak lagi bagus, tapi waktu itu sangat jelas bisa melihatmu. Kamu berjalan mendekatiku tapi tak benar-benar melihatku. Ibuku semakin tua, wajahmu keriput, matamu tak lagi seperti dulu. Semakin lama jarak kita semakin dekat, pada saat yang sama pula aku tercekat. aku tak bisa lagi membendung air mataku ketika kita semakin dekat dan kamu bertanya aku siapa. Setelah kau sadar bahwa yang datang adalah anakmu kau tetap sedingin dulu. Kau memaksakan senyummu. Suasana yang kaku. Kau menyuruhku masuk dan duduk. Lalu kau buatkan aku teh hangat. Pada saat yang sama pula aku melihatmu di dapur sedang mengaduk teh sambil menangis. Aku berjalan masuk kamar dan kubuka koper besarmu, saat itu aku lebih menangis ketika yang kulihat pertama adalah fotoku dan adik-adikku. Semua tersimpan rapi dalam satu amplop putih.  Aku kembali duduk di ruang tamu. Kau tetap dingin. Berusaha menahan rindu dan tak percaya anakmu kembali lagi kerumah ini. Dalam diamku aku tetap bersyukur, Allah mengabulkan doaku. Allah menjagamu meski kita terbelah di negara yang berbeda. Allah menciptakan sejuta kerinduan selama belasan tahun. Aku sangat menyayangi, doaku untukmu tak pernah putus. Al-Fatihah selalu kuselipkan di akhir solatku untukmu. Meski aku tak pernah bisa memanggilmu ibu, aku tetap anakmu. meski aku tak bisa setiap hari melihatmu, rindu ini selalu ada. meski aku tak memiliki satu pun gambar dirimu kenanganmu selalu membeku. 

Meski sedingin apapun engkau, kau tetap Ibuku.

Minggu, 13 Juli 2014

Seperti jalan, di depan terhalang, aku memberanikan diri berdiri!

"God gives miracles to those who believe, courage to those with faith, hope to those with faith, hope to those whose who dream, and love to those who accept"

 
 aku tak sendiri, memang selalu ada kamu disini, tepat di sisiku. Kali ini aku tak memperdulikan orang bicara apa saja tentang dirimu. Aku tetap berdiri. Kamu bukan segalanya bagiku, bagimu aku juga bukan segalanya. Ada atau tidak ada dirimu aku hanya ingin tetap berdiri sendiri. Aku ingin memerdekakan impianku, impianmu. Ayolah, sudah lama aku meredupkan sinarku, sudah lama juga aku mengabaikan mimpi-mimpiku. Aku juga ingin melihat kau mengepakkan sayapku. Kita memang satu, tapi tak benar-benar satu. Hanya aku dan Tuhanku yang satu. Simpan disini rasa saing percaya kita. Bila semua saatnya tiba, kita hanya perlu membawa kembali janji dan kepercayaan menuju mimpi indah kita. nantinya, biar kita sama-sama mengepakkan sayap untuk terbang bersama .
Tetap temani aku. tetap jaga mimpi-mimpi kecil kita. Meski kadang aku tertutup awan aku akan tetap menjadi pelangi mengindahkanmu setelah hujan turun. Di dunia ini tak hanya kita yang harus bahagia, tetapi banyak orang yang harus dibahagiakan dan sama-sama tersenyum di akhir perjalanan nanti. Tetap temani aku menangis, tertawa, berduka. hidup ini sangat indah bukan, kita bagai sepasang kupu-kupu yang awalnya hanya sepasang ulat menjijikkan lalu berubah menjadi kepompong berusaha keras menjadi kupu-kupu sampai nantinya bisa terbang ke angkasa dengan warna-warni sayapnya yang indah.
cukup mengerti, kamu dan mimpiku itu bingkisan terindah Tuhan yang akan selalu kujaga. Jadi, tetap disisiku meski kadang aku tak pernah ada. Cukup menantiku aku akan kembali membawa diriku yang lebih baik. Tapi tenang saja, kau bisa pergi kapanpun kau mau. Aku tak menahanmu untuk pergi dari sisiku. bukan juga terlalu mudah melepasmu, tapi aku hanya yakin Tuhan akan menempatkan siapapun yang berhak tinggal disisiku dan akan mengembalikan semua impian dan doa-doaku. Saat aku rapuh hanya yakin dan percaya yang bisa kulakukan. 

"God gives miracles to those who believe, courage to those with faith, hope to those with faith, hope to those whose who dream, and love to those who accept"

Jumat, 11 Juli 2014

Tentang aku,kamu,kita, dan waktu

Waktuku dan waktumu tak jaug berbeda. Kadang aku benci waktumu, kadang kau juga benci waktuku. Kadang kita sama-sama membenci waktu. Waktu yang tak pernah membiarkan kita bersama. Pernah aku membenci kamu dan waktumu. Aku ingin keduanya, kamu dan waktumu. tak bisakah sedikit saja bersahabat denganku? sedikit saja. Waktu untuk menatap matamu, memperhatikan senyummu saja itu sudah cukup meluluhkan keras hatiku menghadapi hari yang tak mau tau. Hari dan waktu dan kamu semakin lama semakin menyiksaku. Tapi tak bisa kuingkari sedikit waktu saja bisa memperbaiki hati. Kadang kita tenggelam dalam waktu dan sama-sama diam menunggu waktu, padahal kita sama-sama ada. Hanya saja kita saling menunggu waktu untuk peka menghadapi waktu bersama

Ketika tuhan memberikanku anugerah , seorang mama.



Tanpa banyak kata pasti Tuhanku mengerti apa yang selalu ada di dalam hati. Dimanapun,kapanpun, nama mama itu yang selalu kuingat. Mamaku tak banyak kata, dalam diamnya dia selalu mengerti apa kebutuhanku. Hanya aku saja yang tak tahu diri terus saja merengek meminta ini itu yang sudah jelas aku tau itu pasti akan membuat beban pikirannya semakin bertambah. Aku juga tak tahu diri sering mengeluh ini itu, padahal sudah tau jelas-jelas lebih berat siapa yang memikul beban. Allah menciptakan dengan sangat sempurna seorang yang kusebut sebagai mama. Tempat keduaku mengeluh, tempat keduaku meminta setelah Allah. Mama mungkin tak pernah tau aku lebih menangis lagi ketika melihatnya meneteskan air mata didepanku. Sekarang mamaku sudah bertambah tua dan beban yang dipikulnya juga semakin bertambah, harus memenuhi kebutuhanku dan kedua adik-adikku belum lagi kebutuhan yang lainnya. Mama jangan menangis tak lama lagi aku akan menyelesaikan semua tugasku dan menemani mama mengisi hari tua. Sedikitpun aku tak ingin mamaku memikul beban sekecil apapun. Dalam malam-malamku aku selalu berdo’a dan yakin pasti Allah akan menjaga mama dan menemani mama dalam setiap langkah meski aku tak bisa berbuat banyak, jauh dari mama dan hanya bisa berdoa lewat hati dan suara kecilku, merintih kepada Allah agar sampai hari terakhirku tetap bisa menemani mama dan membahagiakan mama.

Setitik gambaran gemerlapan lampu kota Paris di bayanganku



Senin, 17 Maret 2014

Bukit bintang waktu itu


Tak seperti malam-malam sebelumnya. Kali ini aku melihat gemerlapan lampu-lampu kota Jogja di malam hari. Ini seperti malam-malam gemerlapan di kota paris yang banyak aku lihat di gambar-gambar  itu, hanya saja disana tak ada menara Eiffel. Lebih indah lagi karena malam itu aku lalui bersamamu. Hanya bahagia yang kurasakan saat itu. Sambil memesan jagung bakar setelah makan mie goreng aku tetap memperhatikannmu. Cara bicaramu, caramu menatapku, logat khas gaya ceritamu, semuanya aku perhatikan dengan sangat baik waktu itu. Sungguh sangat lucu, kadang, aku merasa takut. Entahlah, aku hanya takut saja suatu saat akan kehilangan karna takdir dan jalan kedepan kita tak ada yang pernah tau. Waktu itu kita bersama-sama membuat momen, kuharap momen dan kebersamaan kita tetap terjalin sampai akhir nanti.





Rabu, 02 Juli 2014

1 tahun sudah berlalu. Seperti apa kau sekarang?



 Pulanglah... kami disini tak tahan menahan rindu.

Apa kau masih dengan rambut ombak pendekmu?
apa kau masih dengan tingkah lucumu?
apa kau masih dengan bangun-bangun pagimu yang mengompol di celana?
apa kau masih bisa bermanja-manja dengan lingkunganmu yang baru?
hari ini gerimis. Siang gerimis, sore gerimis, malam pun juga gerimis. Kau tau, aku sangat membenci gerimis. Karena bersama gerimis itu pula ingatan tentang wajah nakalmu itu kembali hadir dihadapanku. aku merindukanmu, adik kecilku yang ketika aku pulang selalu menyambutku dengan pelukannya. Bersama gerimis pula banyak yang ingin aku pertanyakan kepada Tuhan.
Apa ini cara Tuhan mentakdirkan kehidupan kita?
kalau boleh jujur aku benci dengan lelucon ini, aku tidak terima jika Tuhan memisahkan kita dengan cara seperti ini. Ini terlalu kejam. Tapi diam-diam aku berbicara dalam hati Tuhan selalu menyiapkan yang terbaik untuk hambanya..
tapi sedih rasanya jika di hari raya Idul Fitri ini kami tak lagi bersamamu solat ied bersama di masjid,lihat saja mukenamu di lemari masih rapi karena tak ada satupun yang tak menangis menyentuh mukenamu dan mengingatmu. Teman-temanmu juga banyak yang menanyakan kau kapan pulang.
Disana tak ada banyak boneka yang akan menemanimu bermain
disana juga tak ada internet untuk kau melihat melihat video-video spongebob terbaru dan komputer untuk sekedar bermain zombie vs plants
disana kau tak bisa bermanja-manja dengan ibumu
disana kau juga tak bisa membeli segala sesuatu yang kau inginkan
kau tau nak, semua disini selalu merindukanmu. Lihat saja baju-bajumu di lemari, foto-fotomu di dinding,boneka-boneka dan mainanmu masih tersimpan rapi di tempatnya. Coretan-coretanmu di dinding juga tak ada yang berani menghapusnya. Ada sedikit luka yang kulihat di wajah Ayah,mama,Ibu,Hera,Abi,Iwan saat mengingatmu. Aku tau itu. Masing-masing dari kita sama-sama sedang berpura-pura tegar dan baik-baik saja.
Hanya satu hal yang keluarga harapkan untukmu,dik..
Pulanglah... kami disini tak tahan menahan rindu.
 

THE TRAVEL JUNKIES Template by Ipietoon Cute Blog Design