Tampilkan postingan dengan label TRAVELLING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRAVELLING. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2018

Fakta Yang Mengejutkan di Candi Prambanan

Hello guys, setelah sekian lama aku tidak menulis.. akhirnya... welcome back to my blog ☺ kali ini aku akan nyeritain pengalaman ku liburan ke candi prambanan. Awalnya temen aku sih yang namanya Dian yang pengen liburan ke Jogja dan dia pengennya ke Borobudur, karna aku udah pernah ke Borobudur dan kurasa pengalamanku di Borobudur gak worth it akhirnya aku ngasih saran ke Prambanan. Aku cuman liat di foto sih kalo prambanan itu bagus, I think. hehe. Akhirnya setelah banyak pertimbangan... berangkatlah aku dan sahabatku ini ke Prambanan, karna kosku di Jogja terletak di daerah Condongcatur Sleman aku menempuh perjalanan sekitar 40 menit, lumayan cepet sih karna naik motor dan no macet. 

Yups guys, kalo liburan di Jogja kalo cuman berdua aku saranin naik motor aja sih, bisa sewa (50-75k / day) atau kalian bisa minjem motor temen family kalian yang ada di Jogja ☺. Yups lanjuut ya... akhirnya tiba di prambanan sekitar jam 15.00 waktu itu kita sih niatnya ngejar sunset. Harga tiketnya 40.000 dan menurut aku worth it banget. rame sih banyak banget wisatawan, dan ku saranin kalian keliling2 aja dulu sambil liat-liat mana spot yang bagus buat foto. 


aku dan sahabatku, Dian.
Wisata ke candi prambanan biar lebih worth it lagi kalian harus baca sejarahnya gaes jangan cuma kesini cuman cari spot foto trus update aja. Banyak banget pengalamab yang aku dapetin dari wisata di Prambanan, aku jadi ngerti sejarah prambanan dan mengerti bagaimana dewa-dewa dalam agama Hindu karna di setiap candi terdapat patung-patung dewa Hindu. 


aku, di depan megahnya candi prambanan
Oiya, fakta yang aku temuin di candi prambanan ini ternyata candi prambanan itu gak murni peninggalan bandung bondowoso dan roro jonggrang, sebelumnya dalam prasasti yang ditemukan memang ada candi yang menyerupai bentuk prambanan, dan mitos yang beredar di masyarakat pun candi prambanan adalah candi yang dibangun semalam oleh bandung bondowoso untuk persembahan kepada roro jonggrang. namun candi tersebut sudah runtuh berabad-abad yang lalu. Manusia hanya menemukan batu-batu reruntuhan yang dikira candi prambanan itu guys, dan akhirnya tempat tersebut dipugar menyerupai bentuk candi yang katanya ada dalam prasasti yang ditemukan. So, candi prambanan itu buatan manusia. Tidak ada yang tau bentuk Candi prambanan yang dibuat Ki Bandung Bondowoso seperti apa. 

Apapun itu, aku sangat takjub sekali melihat candi prambanan yang sungguh sangat kereeen. setiap melihat relief-relief  yang di ukir pada setiap batunya selalu memiliki makna dan cerita, aku pun selalu tak habis pikir sungguh sangat hebat siapapun yang membuat candi semegah ini. Candi ini merupakan candi hindu terbesar loh guys di Asia. kebayang kan...betapa megah nya. Pengalamanku di candi prambanan sungguh berkesan. Meskipun kakiku gempor stelah mengelilingi kompleks Prambanan aku sangat senang sekali, lelah tak terasa pokoknya. 


Dian dan sunset
Aku berpose di salah satu candi kompleks prambanan

Rabu, 23 Mei 2018

Membuka Pagi Yang Sempurna di Kebun Teh Menoreh




Berada di ketinggian 900 mdpl di Pedukuhan Nglinggo, kelurahan Pagerharjo, kecamatan Samigaluh Kulonprogo, terdapat salah satu pariwisata yang tak biasa kutemukan di Yogyakarta yaitu Kebun Teh. Hanya ada satu wisata kebun teh yang ada di daerah Yogyakarta sehingga aku penasaran ingin mengunjunginya.


Aku melaju ke arah kabupaten Kulonprogo, melewati jalan-jalan tanjakan berkelok nan penuh batu sampailah aku ke desa Nglinggo. Tak sampai disana, untuk mencapai wisata kebun teh aku harus terus berjalan mewati tanjakan-tanjakan lagi. Sekitar 20 menit, terlihat petugas penjaga pintu masuk area wisata kebun teh. Cukup membayar tiket masuk sebesar Rp.3.000 dan membayar parkir Rp.2.000 per motor aku bebas sepuasnya berkeliling ke area wisata kebun teh.

Kira-kira pukul 06.00 pagi terlihat beberapa ibu-ibu pemetik daun teh yang menggendong keranjang sebagai tempat untuk mengumpulkan daun teh yang telah di petik. Kabut putih tipis-tipis masih terlihat sehingga udara pagi yang sejuk nampak terasa. Aku terus berjalan mengelilingi area kebun teh.



Pembibitan teh di di pedukuhan Nglinggo ini mulai dirintis pada tahun 1990. Dinas Perkebunan Kulon Progo melakukan penanaman teh pada tahun 1991. Kebuh teh ini mulai dikembangkan pada saat itu. Berada di ketinggian 900-1000 mdpl membuat kebun teh ini sangat mudah berkembang sehingga pada tahun 2004 Dinas Pariwisata DIY dan bupati Kulon Progo meresmikan wisata ini sebagai salah satu ikon pariwisata yang ada di Kulon Progo.





Beberapa wisatawan mulai ramai berdatangan di area kebun teh ini, tak terkecuali Pak Agus yang jauh-jauh datang dari Sleman untuk menikmati udara sejuk kebun teh menoreh. Pak agus mengaku sudah beberapa kali mengunjungi kebun teh ini untuk sekedar merasakan segarnya udara pagi.

Pemandangan di sekitar wilayah kebun teh ini hampir sama dengan perkebunan teh lain, hanya saja terdapat puncak bukit yang jika kita mendaki sekitar 500 meter , kita bisa melihat lanscape keindahan kebun teh dari ketinggian. Tak hanya itu, di kebun teh ini kita juga bisa menikmati beberapa fasilitas wisata seperti trekking menuju puncak-puncah di perbukitan menoreh, wisata off road mengelilingi jalan area kebun teh, hingga terdapat wisata grojogan watujonggol. Aku lebih memilih trekking mendaki puncak bukit gunung jaran yang masih satu area dengan perkebunan teh ini.







Matahari pagipun semakin terik dan lapisan kabut yang sedikit menutupi pemandangan semakin hilang. Tampak pemandangan luasnya kebun teh dari atas bukit. Kehangatan matahari dan kesejukan udara pagi semakin sempurna membuka hariku. Jogja memang menyimpan berbagai surga wisata yang memukau bagi para wisatawan. Tak rugi rasanya aku membuka hariku dengan menyaksikan keindahan alam yang ada di kebun teh.(TitisLutfitasari)

Selasa, 13 Maret 2018

Sensasi Pijat Refleksi Karang di Pantai Jungwook



Motorku terus melaju kencang ke arah selatan pantai Wediombo yang terletak di Gunung Kidul, Yogyakarta dan sekitar 45 kilometer dari kota Wonosari. Sekilas aku melirik jam tanganku dan sedikit kaget karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Bulu kudukku semakin bergidik ketika angin malam semakin kencang dan aroma mistis mulai terasa. Waktu itu aku tak sendiri, melainkan bersama teman-temanku yang berjumlah 6 orang. Untuk mengisi waktu senggang, kami memutuskan untuk camping selama sehari semalam di Pantai Jungwook. Pantai Jungwook merupakan salah satu dari belasan pantai yang terdapat di kabupaten Gunung Kidul.

Sambil terus melaju kencang aku memperhatikan jalanan yang gelap gulita dan tak ada lampu penerang jalan satu pun. Waktu itu kami memang memutuskan untuk pergi ke Pantai Jungwook, namun setelah menelusuri sepanjang jalan tidak ada tanda arah menuju pantai Jungwook akhirnya kami lelah dan sedikit putus asa, apalagi waktu sudah semakin larut malam dan tentunya suasana jalanan sedikit sepi dan agak horor.
Lalu salah satu temanku melihat papan arah jalan ke Pantai Jungwook yang sedikit usang dan tidak terlalu meyakinkan karena papan arah itu seperti tidak terawat dan terlalu usang. Akhirnya kami memutuskan untuk belok kanan menuju papan arah tersebut.
Kami melewati jalan setapak yang terjal berbatu dan tentunya sangat licin. Akses jalan menuju Pantai Jungwook terbilang sangat berat. Akses jalannya bisa ditempuh dengan menggunakan motor maupun mobil kira-kira setengah jalan dari jalan aspal melewati batu-batu yang tajam sehingga rawan sekali ban motor bocor. 

Setelah melakukan perjalanan melewati medan yang lumayan berat akhirnya terdengar juga suara deburan ombak pantai. Kami meletakkan motor di tempat parkiran yang sudah disediakan dengan hanya membayar biaya parkir 2000 rupiah per-motor.
Pantai Jungwook memiliki fasilitas yang terbilang lumayan, terdapat beberapa kamar mandi maupun WC untuk para wisatawan.Untuk masuk ke area pantai, tidak dikenakan harga tiket masuk hanya membayar parkir motor saja. Selain itu, pantai Jungwook juga masih sepi pengunjung dan tidak banyak sampah. 

Malam pun berlalu dan ketika matahari mulai terbit, pantai Jungwook terlihat semakin eksotis. Pantai ini dikeliling oleh batu-batu karang yang besar, pasir yang putih, dan air laut yang sangat jernih. Tidak hanya itu, sebagian pasir di Pantai Jungwook bukanlah pasir biasa, melainkan pasir dari tumpukan karang yang jika kita berjalan di atasnya, kaki ini terasa rileks sekali seperti dipijat refleksi. Berbagai jenis karang terdapat di Pantai Jungwook dan banyak biota laut yang bisa dilihat seperti bintang laut, dan lain-lain.
Aku berjalan tanpa alas kaki sambil menikmati gelinya tumpukan pasir karang sepanjang bibir pantai, rasanya seperti pijat refleksi namun tetap hati-hati karena masih banyak karang yang tajam. Setelah berjalan kira-kira 15 menit, aku tiduran di atas pasir karang. Wow, rasanya seperti pijatan alami dari alam.





Perjalanan yang terbilang cukup melelahkan pun terbayar lunas dengan keindahan dan sensasi pijat refleksi karang yang ditawarkan oleh Pantai Jungwook.(Titis Lutfitasari)

Pesona Hutan Mangrove di Pantai Congot



Berawal dari iseng-iseng melihat foto wisata jogja di situs jejaring sosial instagram, aku tertarik dengan salah satu tempat wisata yang baru kali ini sedang hits di Yogyakarta. Hutan Mangrove Pantai Congot. Hutan mangrove di sebelah Pantai Congot  ini merupakan wisata yang belum lama. Hutan ini merupakan hutan buatan konservasi yang dibuat oleh warga sekitar yang berlokasi di  Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo.Berbekal rasa penasaran, akhirnya aku langsung tancap gas menuju lokasi.



Kira-kira 2 jam dari pusat kota Jogja aku memulai rute menuju jalan jogja-wates. Tiba di perbatasan Kab. Kulonprogo, aku menuju arah ke purworejo sekitar 22 km. Sampaikota Wates, masih ke barat lagi hingga ada pertigaan terminal Wates aku belok kiri. Atau jika kalian masih bingung dengan rutenya, kalian bisa mencari lokasi Hutan Mangrove di GPS Handphone kalian. Kulihat dari jauh terdapat papan besar bertuliskan Pantai Mangrove Jembatan Siapi-api. Aku pun segera memarkirkan motorku dan bergegas membayar tiket masuk sebesar Rp.4.000. 

Setelah membayar tiket masuk, aku melewati jembatan bambu yang berada sepanjang jalan ke hutan. Ternyata wisata ini baru di kembangkan sejak awal 2016, dan keberadaan tanaman mangrove di sini sudah ada sejak tahun 1989. Mengetahui bahwa hutan ini berpotensi untuk meningkatkan pariwisata, akhirnya masyarakat sekitar mulai mengambangkan dan membuat sarana dan fasilitas untuk para wisatawan. Jembatan bambu atau yang disebut warga sebagai jembatan siapi-api ini menambah keindahan hutan mangrove. Dengan menyusuri jalan sepanjang jembatan, kita bisa berpindah dari sisi hutan lain ke lainnya. Warga sekitar seakan memahami bahwa daya tarik masyarakat adalah berselfie di tempat wisata sehingga dibangunlah bebrapa spot yang unik di beberapa titik jembatan. Terlihat beberapa pengunjung yang antre menunggu untuk berfoto di masing-masing spot foto.





Beberapa nelayan terlihat sibuk menawari pengunjung untuk menggunakan jasa naik perahu. Di hutan mangrove ini memang pengunjung yang ingin menikmati sensasi naik diatas perahu dimanjakan dengan adanya jasa ini. Karena harganya cukup murah, yaitu sekitar Rp.5000 aku pun menikmati tenangnya ombak pantai congot diantara hutan magrove. Setelah naik perahu, aku pun menyusuri hutan mangrove.

Tidak terlalu panjang dan perjalanan mengelilingi hutan ini masih terlalu dekat dan singkat, namun aku cukup mengapresiasi usaha para warga sekitar untuk mengembangkan potensi hutan mangrove ini meski awalnya hutan mangrove ini sengaja dibuat untuk mencegah abrasi abrasi pantai serta melestarikan kondisi lingkungan dan ekositem sekitar muara pantai. Sepanjang mengelilingi pantai ini seakan pesonanya tiada habis. Dari berbagai sudut, para wisatawan banyak yang berfoto di antara daun-daun mangrove. Aku pun tak mau kalah juga. Sambil menikmati keteduhan diantara dedaunan pohon mangrove aku bersantai di atas ayunan kayu. Suara deburan ombak Pantai Congot juga terdengar diantara hempasan angin.




Hanya hutan mangrove pantai congot yang menawarkan wisata mangrove yang ada di Jogja, selain itu keindahan wisata mangrove juga semakin tak terbendung dengan adanya pondok-pondok peristrirahatan dari bambu yang dijadikan tempat bersantai wisatawan. Dalam sehari wisatawan pantai mangrove mencapai 200-400 orang. Sehingga pantai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. (TitisLutfitasari/2016)
 

THE TRAVEL JUNKIES Template by Ipietoon Cute Blog Design