Berawal
dari iseng-iseng melihat foto wisata jogja di situs jejaring sosial instagram,
aku tertarik dengan salah satu tempat wisata yang baru kali ini sedang hits di
Yogyakarta. Hutan Mangrove Pantai Congot. Hutan mangrove di sebelah Pantai
Congot ini merupakan wisata yang belum lama.
Hutan ini merupakan hutan buatan konservasi yang dibuat oleh warga sekitar yang
berlokasi di Dusun Pasir Mendit, Desa
Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo.Berbekal rasa penasaran, akhirnya
aku langsung tancap gas menuju lokasi.
Kira-kira
2 jam dari pusat kota Jogja aku memulai rute menuju jalan jogja-wates. Tiba di
perbatasan Kab. Kulonprogo, aku menuju arah ke purworejo sekitar 22 km.
Sampaikota Wates, masih ke barat lagi hingga ada pertigaan terminal Wates aku
belok kiri. Atau jika kalian masih bingung dengan rutenya, kalian bisa mencari
lokasi Hutan Mangrove di GPS Handphone kalian. Kulihat dari jauh terdapat papan
besar bertuliskan Pantai Mangrove Jembatan Siapi-api. Aku pun segera
memarkirkan motorku dan bergegas membayar tiket masuk sebesar Rp.4.000.
Setelah
membayar tiket masuk, aku melewati jembatan bambu yang berada sepanjang jalan
ke hutan. Ternyata wisata ini baru di kembangkan sejak awal 2016, dan
keberadaan tanaman mangrove di sini sudah ada sejak tahun 1989. Mengetahui
bahwa hutan ini berpotensi untuk meningkatkan pariwisata, akhirnya masyarakat
sekitar mulai mengambangkan dan membuat sarana dan fasilitas untuk para
wisatawan. Jembatan bambu atau yang disebut warga sebagai jembatan siapi-api
ini menambah keindahan hutan mangrove. Dengan menyusuri jalan sepanjang
jembatan, kita bisa berpindah dari sisi hutan lain ke lainnya. Warga sekitar
seakan memahami bahwa daya tarik masyarakat adalah berselfie di tempat wisata
sehingga dibangunlah bebrapa spot yang unik di beberapa titik jembatan.
Terlihat beberapa pengunjung yang antre menunggu untuk berfoto di masing-masing
spot foto.
Beberapa
nelayan terlihat sibuk menawari pengunjung untuk menggunakan jasa naik perahu.
Di hutan mangrove ini memang pengunjung yang ingin menikmati sensasi naik
diatas perahu dimanjakan dengan adanya jasa ini. Karena harganya cukup murah,
yaitu sekitar Rp.5000 aku pun menikmati tenangnya ombak pantai congot diantara
hutan magrove. Setelah naik perahu, aku pun menyusuri hutan mangrove.
Tidak
terlalu panjang dan perjalanan mengelilingi hutan ini masih terlalu dekat dan
singkat, namun aku cukup mengapresiasi usaha para warga sekitar untuk
mengembangkan potensi hutan mangrove ini meski awalnya hutan mangrove ini
sengaja dibuat untuk mencegah abrasi abrasi pantai serta melestarikan kondisi
lingkungan dan ekositem sekitar muara pantai. Sepanjang mengelilingi pantai ini
seakan pesonanya tiada habis. Dari berbagai sudut, para wisatawan banyak yang
berfoto di antara daun-daun mangrove. Aku pun tak mau kalah juga. Sambil
menikmati keteduhan diantara dedaunan pohon mangrove aku bersantai di atas
ayunan kayu. Suara deburan ombak Pantai Congot juga terdengar diantara hempasan
angin.
0 komentar:
Posting Komentar