Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan
burung-burung di atas sana. Menikmati suasana pantai dan terhanyut dalam suara
deburan ombak. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon cemara,
ditemani matahari dan angin sepoi-sepoi.
Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat
tubuh-selamanya.
Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah
setiap detik di hari-hari kita, seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa
waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun
terasa semakin menakutkan.
Aku rebah di tanah, memejamkan mata kuat-kuat karena air
mata yang menderas. “aku tak akan pergi,” bisikmu selirih angin sore, tapi aku
tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti kau benar-benar tiada?
dia memang tak akan pergi, hanya raganya yg pergi, atau mungkin kamu yang malah akan pergi demi kebaikan semua
BalasHapus