Waktu itu aku memutuskan untuk datang. Rumah ini terasa
asing. Sepi. Tak kurasakan kehangatan dan keramaian seperti dulu. Pohon rambutan
tempatku bermain kulihat tak berbuah. Pohon-pohon singkong di depan rumah yang
menjadi saksi bahwa pada waktu itu bapak masih disini tak lagi ada. hanya ada
pemandangan tanah-tanah tandus karna lama tak tersentuh hujan. Aku melangkah
masuk ke dalam rumah. Pada saat itu pintu terbuka. Aku memanggil-manggil
namamu, tapi tak kutemukan satu orang pun disini. Aku menunggu lama. Waktu itu
aku memutuskan untuk pulang saja. Aku putus asa. Saat aku beranjak pulang, aku
mendengar suara langkah yang rapuh. Aku berjalan mendekat. Meski pandangan
mataku tak lagi bagus, tapi waktu itu sangat jelas bisa melihatmu. Kamu berjalan
mendekatiku tapi tak benar-benar melihatku. Ibuku semakin tua, wajahmu keriput,
matamu tak lagi seperti dulu. Semakin lama jarak kita semakin dekat, pada saat
yang sama pula aku tercekat. aku tak bisa lagi membendung air mataku ketika
kita semakin dekat dan kamu bertanya aku siapa. Setelah kau sadar bahwa yang
datang adalah anakmu kau tetap sedingin dulu. Kau memaksakan senyummu. Suasana yang
kaku. Kau menyuruhku masuk dan duduk. Lalu kau buatkan aku teh hangat. Pada saat
yang sama pula aku melihatmu di dapur sedang mengaduk teh sambil menangis. Aku berjalan
masuk kamar dan kubuka koper besarmu, saat itu aku lebih menangis ketika yang
kulihat pertama adalah fotoku dan adik-adikku. Semua tersimpan rapi dalam satu
amplop putih. Aku kembali duduk di ruang
tamu. Kau tetap dingin. Berusaha menahan rindu dan tak percaya anakmu kembali
lagi kerumah ini. Dalam diamku aku tetap bersyukur, Allah mengabulkan doaku.
Allah menjagamu meski kita terbelah di negara yang berbeda. Allah menciptakan
sejuta kerinduan selama belasan tahun. Aku sangat menyayangi, doaku untukmu tak
pernah putus. Al-Fatihah selalu kuselipkan di akhir solatku untukmu. Meski aku
tak pernah bisa memanggilmu ibu, aku tetap anakmu. meski aku tak bisa setiap
hari melihatmu, rindu ini selalu ada. meski aku tak memiliki satu pun gambar dirimu
kenanganmu selalu membeku.
Minggu, 22 Mei 2016
Sedingin apapun engkau
Label:
CERITA,
CORAT-CORET
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar