Minggu, 22 Mei 2016

Sedingin apapun engkau



Waktu itu aku memutuskan untuk datang. Rumah ini terasa asing. Sepi. Tak kurasakan kehangatan dan keramaian seperti dulu. Pohon rambutan tempatku bermain kulihat tak berbuah. Pohon-pohon singkong di depan rumah yang menjadi saksi bahwa pada waktu itu bapak masih disini tak lagi ada. hanya ada pemandangan tanah-tanah tandus karna lama tak tersentuh hujan. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Pada saat itu pintu terbuka. Aku memanggil-manggil namamu, tapi tak kutemukan satu orang pun disini. Aku menunggu lama. Waktu itu aku memutuskan untuk pulang saja. Aku putus asa. Saat aku beranjak pulang, aku mendengar suara langkah yang rapuh. Aku berjalan mendekat. Meski pandangan mataku tak lagi bagus, tapi waktu itu sangat jelas bisa melihatmu. Kamu berjalan mendekatiku tapi tak benar-benar melihatku. Ibuku semakin tua, wajahmu keriput, matamu tak lagi seperti dulu. Semakin lama jarak kita semakin dekat, pada saat yang sama pula aku tercekat. aku tak bisa lagi membendung air mataku ketika kita semakin dekat dan kamu bertanya aku siapa. Setelah kau sadar bahwa yang datang adalah anakmu kau tetap sedingin dulu. Kau memaksakan senyummu. Suasana yang kaku. Kau menyuruhku masuk dan duduk. Lalu kau buatkan aku teh hangat. Pada saat yang sama pula aku melihatmu di dapur sedang mengaduk teh sambil menangis. Aku berjalan masuk kamar dan kubuka koper besarmu, saat itu aku lebih menangis ketika yang kulihat pertama adalah fotoku dan adik-adikku. Semua tersimpan rapi dalam satu amplop putih.  Aku kembali duduk di ruang tamu. Kau tetap dingin. Berusaha menahan rindu dan tak percaya anakmu kembali lagi kerumah ini. Dalam diamku aku tetap bersyukur, Allah mengabulkan doaku. Allah menjagamu meski kita terbelah di negara yang berbeda. Allah menciptakan sejuta kerinduan selama belasan tahun. Aku sangat menyayangi, doaku untukmu tak pernah putus. Al-Fatihah selalu kuselipkan di akhir solatku untukmu. Meski aku tak pernah bisa memanggilmu ibu, aku tetap anakmu. meski aku tak bisa setiap hari melihatmu, rindu ini selalu ada. meski aku tak memiliki satu pun gambar dirimu kenanganmu selalu membeku. 

Meski sedingin apapun engkau, kau tetap Ibuku.

0 komentar:

Posting Komentar

 

THE TRAVEL JUNKIES Template by Ipietoon Cute Blog Design