Selasa, 13 Maret 2018

Sensasi Pijat Refleksi Karang di Pantai Jungwook



Motorku terus melaju kencang ke arah selatan pantai Wediombo yang terletak di Gunung Kidul, Yogyakarta dan sekitar 45 kilometer dari kota Wonosari. Sekilas aku melirik jam tanganku dan sedikit kaget karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Bulu kudukku semakin bergidik ketika angin malam semakin kencang dan aroma mistis mulai terasa. Waktu itu aku tak sendiri, melainkan bersama teman-temanku yang berjumlah 6 orang. Untuk mengisi waktu senggang, kami memutuskan untuk camping selama sehari semalam di Pantai Jungwook. Pantai Jungwook merupakan salah satu dari belasan pantai yang terdapat di kabupaten Gunung Kidul.

Sambil terus melaju kencang aku memperhatikan jalanan yang gelap gulita dan tak ada lampu penerang jalan satu pun. Waktu itu kami memang memutuskan untuk pergi ke Pantai Jungwook, namun setelah menelusuri sepanjang jalan tidak ada tanda arah menuju pantai Jungwook akhirnya kami lelah dan sedikit putus asa, apalagi waktu sudah semakin larut malam dan tentunya suasana jalanan sedikit sepi dan agak horor.
Lalu salah satu temanku melihat papan arah jalan ke Pantai Jungwook yang sedikit usang dan tidak terlalu meyakinkan karena papan arah itu seperti tidak terawat dan terlalu usang. Akhirnya kami memutuskan untuk belok kanan menuju papan arah tersebut.
Kami melewati jalan setapak yang terjal berbatu dan tentunya sangat licin. Akses jalan menuju Pantai Jungwook terbilang sangat berat. Akses jalannya bisa ditempuh dengan menggunakan motor maupun mobil kira-kira setengah jalan dari jalan aspal melewati batu-batu yang tajam sehingga rawan sekali ban motor bocor. 

Setelah melakukan perjalanan melewati medan yang lumayan berat akhirnya terdengar juga suara deburan ombak pantai. Kami meletakkan motor di tempat parkiran yang sudah disediakan dengan hanya membayar biaya parkir 2000 rupiah per-motor.
Pantai Jungwook memiliki fasilitas yang terbilang lumayan, terdapat beberapa kamar mandi maupun WC untuk para wisatawan.Untuk masuk ke area pantai, tidak dikenakan harga tiket masuk hanya membayar parkir motor saja. Selain itu, pantai Jungwook juga masih sepi pengunjung dan tidak banyak sampah. 

Malam pun berlalu dan ketika matahari mulai terbit, pantai Jungwook terlihat semakin eksotis. Pantai ini dikeliling oleh batu-batu karang yang besar, pasir yang putih, dan air laut yang sangat jernih. Tidak hanya itu, sebagian pasir di Pantai Jungwook bukanlah pasir biasa, melainkan pasir dari tumpukan karang yang jika kita berjalan di atasnya, kaki ini terasa rileks sekali seperti dipijat refleksi. Berbagai jenis karang terdapat di Pantai Jungwook dan banyak biota laut yang bisa dilihat seperti bintang laut, dan lain-lain.
Aku berjalan tanpa alas kaki sambil menikmati gelinya tumpukan pasir karang sepanjang bibir pantai, rasanya seperti pijat refleksi namun tetap hati-hati karena masih banyak karang yang tajam. Setelah berjalan kira-kira 15 menit, aku tiduran di atas pasir karang. Wow, rasanya seperti pijatan alami dari alam.





Perjalanan yang terbilang cukup melelahkan pun terbayar lunas dengan keindahan dan sensasi pijat refleksi karang yang ditawarkan oleh Pantai Jungwook.(Titis Lutfitasari)

Beragam Sajian Lezat Masakan Khas Jogja di Warung Ijo



Terletak di Jl. Argolubang No.10 Baciro, Yogyakarta terdapat sebuah warung yang nyaris tidak terlihat jika kita sekilas melewati jalan raya. Hanya terdapat parkiran mobil-mobil yang berjejer rapi, bahkan papan nama pun tidak terihat sama sekali karena tertutupi rimbunnya pepohonan. Namun siapa sangka di balik parkiran banyak mobil itu terdapat sebuah warung legendarisyang dinamai “Warung Ijo”.

 

 Sudah lebih dari 50 tahun warung ini dibuka dan saat ini telah diwariskan ke generasi ke dua. Cita rasa khas Jawa masakan di warung ijo ini konon sudah terkenal di kalangan pecinta kuliner di kota Jogja. Penasaran dengan kelezatannya, aku pun tak sabar ingin mencicipi masakan-masakan di warung ijo ini. sesaat setelah saya masuk, saya disapa oleh perempuan yang sangat ramah sebut saja mbak Siti si empunya warung yang merekomendasikan beberapa masakan yang paling laris. 




Semua lauk disajikan dalam benuk prasmanan sehingga pembeli bebas mengambil apa saja yang diinginkan. Lebih dari 30 macam lauk terjejer rapi di etalase. Saya pun kebingungan untuk mengambil lauk, ingin rasanya mencicipi semua lauk yang disediakan. Beragam masakan seperti brongkos, telur bacem, tempe bacem, mangut lele, lodeh, usus ayam, oseng tempe lombok ijo, buntil daun pepaya, sop, dan beragam jenis sayur lainnya lengkap tersedia di etalase. Piring-piring dan nasi sudah disiapkan di sebelah etalase dan tersedia pula pilihan nasi merah dan nasi putih.






Beruntung sekali pada waktu itu aku datang sekitar jam 7 pagi, karena lauk masih lengkap. Biasanya jika agak siang lauksudah tinggal seidkit dan tidak lengkap, kata mbak Siti. Aku pun mengambil sepiring nasi merah, usus ayam, perkedel, dan brongkos yang menjadi menu andalan di warung ini. tidak lupa peyek teri kesukaanku yang semakin menambah nafsu makan. Aku pun langsung menuju spot kursi yang berasa di dekat pintu dengan suguhan pemandangan lalu - lalang kereta api.

Aku pun segera menyantap menu sarapanku dan rasanya tidak mengecewakan. Brongkos racikan Mbak Siti terasa gurih dan manis, sangat pas sekali. Perpaduan gurih dan manis juga saya rasakan ketika menyantap sate usus ayam yang dimasak dengan bumbu Klaten. Tidak lupa aku memesan es jamu beras kencur sebgai minuman penutup. Meski perut sudah kenyang rasanya aku tak kapok dan ingin kembali kesini untuk mencoba menu-menu yang lain. 

Menu masakan Warung Ijo ini bisa kita nikmati setiap hari senin sampai jumat dan jangan kaget jika kita harus mengatre lama untuk mengambil menu karena warung ini sudah terkenal seantero kota Yogyakarta sehingga banyak sekali pembelinya. Selain harga yang murah dan pas di kantong, suasana warung ini sangat nyaman. Meski tergolong warung jadul, namun warung ini telah berkembang sesuai jamannya, terbukti dengan penataan meja dan kursi yang dibuat ala – ala kafe dan tak melupakan kesan jadulnya di bagian depannya. (Titis_Lutfitasari/2016)

Pesona Hutan Mangrove di Pantai Congot



Berawal dari iseng-iseng melihat foto wisata jogja di situs jejaring sosial instagram, aku tertarik dengan salah satu tempat wisata yang baru kali ini sedang hits di Yogyakarta. Hutan Mangrove Pantai Congot. Hutan mangrove di sebelah Pantai Congot  ini merupakan wisata yang belum lama. Hutan ini merupakan hutan buatan konservasi yang dibuat oleh warga sekitar yang berlokasi di  Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo.Berbekal rasa penasaran, akhirnya aku langsung tancap gas menuju lokasi.



Kira-kira 2 jam dari pusat kota Jogja aku memulai rute menuju jalan jogja-wates. Tiba di perbatasan Kab. Kulonprogo, aku menuju arah ke purworejo sekitar 22 km. Sampaikota Wates, masih ke barat lagi hingga ada pertigaan terminal Wates aku belok kiri. Atau jika kalian masih bingung dengan rutenya, kalian bisa mencari lokasi Hutan Mangrove di GPS Handphone kalian. Kulihat dari jauh terdapat papan besar bertuliskan Pantai Mangrove Jembatan Siapi-api. Aku pun segera memarkirkan motorku dan bergegas membayar tiket masuk sebesar Rp.4.000. 

Setelah membayar tiket masuk, aku melewati jembatan bambu yang berada sepanjang jalan ke hutan. Ternyata wisata ini baru di kembangkan sejak awal 2016, dan keberadaan tanaman mangrove di sini sudah ada sejak tahun 1989. Mengetahui bahwa hutan ini berpotensi untuk meningkatkan pariwisata, akhirnya masyarakat sekitar mulai mengambangkan dan membuat sarana dan fasilitas untuk para wisatawan. Jembatan bambu atau yang disebut warga sebagai jembatan siapi-api ini menambah keindahan hutan mangrove. Dengan menyusuri jalan sepanjang jembatan, kita bisa berpindah dari sisi hutan lain ke lainnya. Warga sekitar seakan memahami bahwa daya tarik masyarakat adalah berselfie di tempat wisata sehingga dibangunlah bebrapa spot yang unik di beberapa titik jembatan. Terlihat beberapa pengunjung yang antre menunggu untuk berfoto di masing-masing spot foto.





Beberapa nelayan terlihat sibuk menawari pengunjung untuk menggunakan jasa naik perahu. Di hutan mangrove ini memang pengunjung yang ingin menikmati sensasi naik diatas perahu dimanjakan dengan adanya jasa ini. Karena harganya cukup murah, yaitu sekitar Rp.5000 aku pun menikmati tenangnya ombak pantai congot diantara hutan magrove. Setelah naik perahu, aku pun menyusuri hutan mangrove.

Tidak terlalu panjang dan perjalanan mengelilingi hutan ini masih terlalu dekat dan singkat, namun aku cukup mengapresiasi usaha para warga sekitar untuk mengembangkan potensi hutan mangrove ini meski awalnya hutan mangrove ini sengaja dibuat untuk mencegah abrasi abrasi pantai serta melestarikan kondisi lingkungan dan ekositem sekitar muara pantai. Sepanjang mengelilingi pantai ini seakan pesonanya tiada habis. Dari berbagai sudut, para wisatawan banyak yang berfoto di antara daun-daun mangrove. Aku pun tak mau kalah juga. Sambil menikmati keteduhan diantara dedaunan pohon mangrove aku bersantai di atas ayunan kayu. Suara deburan ombak Pantai Congot juga terdengar diantara hempasan angin.




Hanya hutan mangrove pantai congot yang menawarkan wisata mangrove yang ada di Jogja, selain itu keindahan wisata mangrove juga semakin tak terbendung dengan adanya pondok-pondok peristrirahatan dari bambu yang dijadikan tempat bersantai wisatawan. Dalam sehari wisatawan pantai mangrove mencapai 200-400 orang. Sehingga pantai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. (TitisLutfitasari/2016)

ABOUT ME

Hi, my name is Titis Lutfitasari. I was born in Banyuwangi on 1 August 1994. I am first child and I have 2 younger siblings. My last education was at Indonesia Institute of The Arts Yogyakarta majoring in Television and film. I finished my education in 2017 and now I work as a photographer based in Yogyakarta and Banyuwangi.



I grew up in a simple family and very happy. From childhood, my family taught me about independence and discipline. I love to write, traveling, culinary, and photography. And on this blog I'll share a little about all the things I've ever experienced :)








 you can also contact me in some of my social media :)
Facebook : Titis Lutfitasari
Instagram : @titislutfitasari__ https://www.instagram.com/titislutfitasari__/?hl=id
Email : titislutfitas@gmail.com

Menyantap Sarapan Pagi di Soto Legendaris Pak Marto


Menu soto merupakan salah satu menu rekomendasi santap pagi bagi semua kalangan. Karena ingin menyantap soto akhirnya aku memutuskan untuk mampir di soto Pak Marto yang berlokasi di Jl. Mayor Jenderal S. Parman, No. 44, Yogyakarta. Soto Pak Marto ini merupakan salah satu soto legendaris karena sudah berdiri sejak tahun 1960.  Saat ini warung soto Pak Marto dikelola oleh generasi ketiga.


Beberapa karyawan warung soto Pak Marto mulai sibuk melayani antrean pembeli yang cukup banyak. Di jam-jam pagi seperti ini soto Pak Marto sudah diburu oleh banyak pengunjung yang ingin sarapan. Terlihat beberapa mangkuk soto yang berjejer dan sudah diisi dengan nasi. Pelayanan di warung soto Pak Marto ini tidak terlalu lama, karena soto sudah diracik dan tinggal ditambah kuah. Salah satu menu andalan soto Pak Marto adalah soto babat sapi yang dibumbu manis. Segera aku memesan soto babat sapi dan soto sapi.


Porsi soto Pak Marto tidak terlalu besar namun cukup mengenyangkan. Kuah soto yang disajikan tidak terlalu bening dan tidak asin. Namun jika kita menambahkan sedikit garam, beberapa tetes jeruk nipis dan sambal yang disediakan di meja, rasa soto ini sangat lezat dan aromanya membuat kita makan semakin lahap.


Seporsi soto babat sapi berisi nasi, potongan sayur kubis, taoge, seledri, dan tentunyaa irisan babat. Irisan babatnya menambah kelezatan kuah dan tidak seperti soto babat pada umumnya. Babat di warung Pak Marto ini terasa manis dan empuk, apalagi irisannya yang besar-besar membuat rasa empuk babat sangat terasa. 







Berbeda dengan rasa soto sapi. Menurut saya, kuah soto sapi kurang terasa rasa daging sapinya karena soto sapi pak Marto sama seperti soto sapi pada umumnya. Daging sapinya masih terasa alot atau keras. Selain itu, rasa sapinya kurang meyatu dengan kuahnya. Saya lebih merekomendasikan soto babat karena rasa babat empuk dan menyatu dengan kuahnya.


Untuk lauk tambahannya, kita bisa memilih beragam lauk tempe bacem, iso, perkedel, sate, yang sudah disediakan di atas meja. Mengenai harganya, tak perlu khawatir karena soto pak marto terbilang cukup murah yaitu hanya Rp.11.000 per porsinya. Warung soto Pak Marto buka pada pukul 08.00 dan karena soto ini selalu laris maka jangan harap jika kita datang terlalu siang akan kebagian. Soto ini selalu habis ketika lewat jam makan siang. Berbagai cabang soto Pak Marto pun sudah dibuka diantaranya di Jalan Janti 336 (depan Jogja Expo Center), Jalan Sonosewu, Yogyakarta (sebelah IKIP PGRI), Pinggiran Lapangan Kridosono, dan di daerah Jombor, Sleman, Yogyakarta.(TitisLutfitasari/2016)
 

THE TRAVEL JUNKIES Template by Ipietoon Cute Blog Design