Selasa, 13 Maret 2018

ABOUT ME

Hi, my name is Titis Lutfitasari. I was born in Banyuwangi on 1 August 1994. I am first child and I have 2 younger siblings. My last education was at Indonesia Institute of The Arts Yogyakarta majoring in Television and film. I finished my education in 2017 and now I work as a photographer based in Yogyakarta and Banyuwangi.



I grew up in a simple family and very happy. From childhood, my family taught me about independence and discipline. I love to write, traveling, culinary, and photography. And on this blog I'll share a little about all the things I've ever experienced :)








 you can also contact me in some of my social media :)
Facebook : Titis Lutfitasari
Instagram : @titislutfitasari__ https://www.instagram.com/titislutfitasari__/?hl=id
Email : titislutfitas@gmail.com

Menyantap Sarapan Pagi di Soto Legendaris Pak Marto


Menu soto merupakan salah satu menu rekomendasi santap pagi bagi semua kalangan. Karena ingin menyantap soto akhirnya aku memutuskan untuk mampir di soto Pak Marto yang berlokasi di Jl. Mayor Jenderal S. Parman, No. 44, Yogyakarta. Soto Pak Marto ini merupakan salah satu soto legendaris karena sudah berdiri sejak tahun 1960.  Saat ini warung soto Pak Marto dikelola oleh generasi ketiga.


Beberapa karyawan warung soto Pak Marto mulai sibuk melayani antrean pembeli yang cukup banyak. Di jam-jam pagi seperti ini soto Pak Marto sudah diburu oleh banyak pengunjung yang ingin sarapan. Terlihat beberapa mangkuk soto yang berjejer dan sudah diisi dengan nasi. Pelayanan di warung soto Pak Marto ini tidak terlalu lama, karena soto sudah diracik dan tinggal ditambah kuah. Salah satu menu andalan soto Pak Marto adalah soto babat sapi yang dibumbu manis. Segera aku memesan soto babat sapi dan soto sapi.


Porsi soto Pak Marto tidak terlalu besar namun cukup mengenyangkan. Kuah soto yang disajikan tidak terlalu bening dan tidak asin. Namun jika kita menambahkan sedikit garam, beberapa tetes jeruk nipis dan sambal yang disediakan di meja, rasa soto ini sangat lezat dan aromanya membuat kita makan semakin lahap.


Seporsi soto babat sapi berisi nasi, potongan sayur kubis, taoge, seledri, dan tentunyaa irisan babat. Irisan babatnya menambah kelezatan kuah dan tidak seperti soto babat pada umumnya. Babat di warung Pak Marto ini terasa manis dan empuk, apalagi irisannya yang besar-besar membuat rasa empuk babat sangat terasa. 







Berbeda dengan rasa soto sapi. Menurut saya, kuah soto sapi kurang terasa rasa daging sapinya karena soto sapi pak Marto sama seperti soto sapi pada umumnya. Daging sapinya masih terasa alot atau keras. Selain itu, rasa sapinya kurang meyatu dengan kuahnya. Saya lebih merekomendasikan soto babat karena rasa babat empuk dan menyatu dengan kuahnya.


Untuk lauk tambahannya, kita bisa memilih beragam lauk tempe bacem, iso, perkedel, sate, yang sudah disediakan di atas meja. Mengenai harganya, tak perlu khawatir karena soto pak marto terbilang cukup murah yaitu hanya Rp.11.000 per porsinya. Warung soto Pak Marto buka pada pukul 08.00 dan karena soto ini selalu laris maka jangan harap jika kita datang terlalu siang akan kebagian. Soto ini selalu habis ketika lewat jam makan siang. Berbagai cabang soto Pak Marto pun sudah dibuka diantaranya di Jalan Janti 336 (depan Jogja Expo Center), Jalan Sonosewu, Yogyakarta (sebelah IKIP PGRI), Pinggiran Lapangan Kridosono, dan di daerah Jombor, Sleman, Yogyakarta.(TitisLutfitasari/2016)

Senin, 12 Maret 2018

Sunset Menawan di Pantai Parangtritis



Pantai Parangtritis merupakan pantai yang paling terkenal di Jogja dan menjadi tujuan utama ikon pariwisata Yogyakarta. Pantai ini sangat terkenal karena cerita legenda Ratu Kidul yang menurut kepercayaan orang Jawa adalah ratu penguasa pantai Selatan dan konon katanya pantai parangtritis inilah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul tersebut, karena legenda inilah pantai Parangtritis menjadi pantai yang sangat terkenal. Tak kalah menariknya dengan legenda yang beredar di masyarakat, pantai ini ternyata memang memiliki sunset yang menawan. Letak Pantai Parangtritis pun mudh dijangkau dan membutuhkan waktu tak kurang dari 45 menit dari kota Jogja untuk sampai di Pantai Parangtritis.

Sekedar hanya ingin menghabiskan waktu senjaku, aku pun melaju motorku menuju ke Pantai Parangtritis untuk berburu sunset dan sedikit refreshing. Menjelang matahari terbenam memang waktu yang pas untuk menikmati keindahan pantai. Tepatnya pukul 15.00 aku sampai di Pantai Parangtritis dan untuk menunggu waktu sore masih terlalu lama, aku pun berjalan menuju puncak tebing Gembirawati yang lokasinya di belakang pantai. dari puncak inilah kita bisa melihat keseluruhan pantai Parangtritis laut selatan. Sepanjang jarak mataku memandang ratusan wisatawan yang berdiri di tepi Pantai terlihat bagaikan semut kecil yang berjalan kesana kemari. Keindahan pantai ini sanggup membuatku tercengang kagum.










Tidak hanya menawarkan pemandangan dan sunset yang menawan, di pantai ini juga menyediakan berbagai macam sara untuk sekedar bersenang-senang ketika pagi sampai sore hari yaitu ATV untuk kalian yang suka tantangan. Menyusuri sepanjang garis pantai menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan yang berkunjung dan untuk sekedar spot indah untuk mengabadikan momen dan biasanya sering digunakan oleh fotografer terletak di gugusan karang di sisi pantai Parangtritis. 


Hari semakin sore dan semakin banyak wisatawan yang berdatangan untuk sekedar ingin menikmati sunset. Terlihat beberapa wisatawan yang asyik menaiki delman kuda dan anak-anak kecil yang asyik bermain pasir. Aku pun sibuk mengabadikan momen sunset terindah yang pernah aku temui. 

Menjelang malam, rasanya aku enggan beranjak dan akhirnya aku memutuskan untuk menikmati suasana sore menjelang malam dengan membeli es kelapa muda dan jagung bakar. Sambil menggelar tikar ditemani suara deburan ombak dan bercengkarama bersama teman-teman seperjuangan menjadi kenangan indah tersendiri dan tak mudah kulupakan. Pantai Parangtritis membuatku tersadar bahwa ciptaan Tuhan memang agung dan  indah ini patut kita jaga kelestariannya.(TitisLutfitasari_2016)

Kamis, 18 Januari 2018

Bagaimana Bisa ?

Malamku selalu diisi oleh pikiran tentangmu. Wajahmu. Senyummu. Cara kau memperlakukan aku.
Aku lebih suka menutup mata karna aku bebas berkhayal tentanmu. Menikmati setiap detik bersamamu, berjalan sambil berpegang tangan. Bercerita tanpa takut habis waktu. Entahlah yang kufikirkan hari ini, kemarin, dan kemarin hanya untuk mengembalikanmu kembali.

Cinta itu katanya sederhana. Tapi aku tak merasa bahwa dengan doa cintaku bisa tumbuh disampingku dan menjadi milikku. Membiarkanmu menghilang hanya menjadi ketakutanku tersendiri. Kau mudah berlalu. Kau muda menghilang. Kau pergi memilih dengan caramu. Bagaimana bisa kau memilih tanpa melihat perjuanganku ?

Aku selalu ingin tau sedang apa kau saat ini.
Aku yang selalu tak memperdulikan cinta selainmu.
Aku yang bahkan rela melewati jarak sejauh apapun untuk menemuimu bahkan tanpa kau suruh dan kau paksa.
Perjuanganku hanya kasat mata bagimu. Bagaimana mungkin perjuangaku seolah-olah kalah dengan wanita lain yang hanya rela menempuh beberapa jam jarak untuk menemuimu ?
apakah dia mendoakanmu ?
apakah cintanya sebesar cintaku ?
apakah perjuanganyya melebihi perjuanganku ?
apakah dia lebih tangguh daripada aku ?

Sesakit apapun kau menyakitiku bahkan aku akan tetap memperjuankanmu. Taukah kau apa hal yang paling aku takutkan ?

Hal yang paling aku takutkan adalah saat aku membuka mata , aku harus menerima kenyataan bahwa kau benar-benar memilih dia, sementara aku telah menghabiskan waktuku berjuang untukmu. Aku wanita yang berjuang sendiri mempertahankan takdir yang kumau, sementara kau tak bermaksud menyakitiku namun perlahan menusuk dalam diam. Kau boleh bangga jika menemukan wanita yang lebih tangguh daripada aku. Aku akan ikhlas jika kau lebih memilih seseorang yang berjuang melebihi diriku.

Jumat, 27 Mei 2016

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangan



Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana. Menikmati suasana pantai dan terhanyut dalam suara deburan ombak. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon cemara, ditemani  matahari dan angin sepoi-sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh-selamanya.


Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari-hari kita, seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan.


Aku rebah di tanah, memejamkan mata kuat-kuat karena air mata yang menderas. “aku tak akan pergi,” bisikmu selirih angin sore, tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti kau benar-benar tiada?

Minggu, 22 Mei 2016

Sedingin apapun engkau



Waktu itu aku memutuskan untuk datang. Rumah ini terasa asing. Sepi. Tak kurasakan kehangatan dan keramaian seperti dulu. Pohon rambutan tempatku bermain kulihat tak berbuah. Pohon-pohon singkong di depan rumah yang menjadi saksi bahwa pada waktu itu bapak masih disini tak lagi ada. hanya ada pemandangan tanah-tanah tandus karna lama tak tersentuh hujan. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Pada saat itu pintu terbuka. Aku memanggil-manggil namamu, tapi tak kutemukan satu orang pun disini. Aku menunggu lama. Waktu itu aku memutuskan untuk pulang saja. Aku putus asa. Saat aku beranjak pulang, aku mendengar suara langkah yang rapuh. Aku berjalan mendekat. Meski pandangan mataku tak lagi bagus, tapi waktu itu sangat jelas bisa melihatmu. Kamu berjalan mendekatiku tapi tak benar-benar melihatku. Ibuku semakin tua, wajahmu keriput, matamu tak lagi seperti dulu. Semakin lama jarak kita semakin dekat, pada saat yang sama pula aku tercekat. aku tak bisa lagi membendung air mataku ketika kita semakin dekat dan kamu bertanya aku siapa. Setelah kau sadar bahwa yang datang adalah anakmu kau tetap sedingin dulu. Kau memaksakan senyummu. Suasana yang kaku. Kau menyuruhku masuk dan duduk. Lalu kau buatkan aku teh hangat. Pada saat yang sama pula aku melihatmu di dapur sedang mengaduk teh sambil menangis. Aku berjalan masuk kamar dan kubuka koper besarmu, saat itu aku lebih menangis ketika yang kulihat pertama adalah fotoku dan adik-adikku. Semua tersimpan rapi dalam satu amplop putih.  Aku kembali duduk di ruang tamu. Kau tetap dingin. Berusaha menahan rindu dan tak percaya anakmu kembali lagi kerumah ini. Dalam diamku aku tetap bersyukur, Allah mengabulkan doaku. Allah menjagamu meski kita terbelah di negara yang berbeda. Allah menciptakan sejuta kerinduan selama belasan tahun. Aku sangat menyayangi, doaku untukmu tak pernah putus. Al-Fatihah selalu kuselipkan di akhir solatku untukmu. Meski aku tak pernah bisa memanggilmu ibu, aku tetap anakmu. meski aku tak bisa setiap hari melihatmu, rindu ini selalu ada. meski aku tak memiliki satu pun gambar dirimu kenanganmu selalu membeku. 

Meski sedingin apapun engkau, kau tetap Ibuku.

Minggu, 15 Mei 2016

KITA DAN PANTAI

Sambil menunggu,
Rindu tak sadar membelenggu
Bukannya kisah cinta seterusnya akan begini ?
Semua tentang rindu, sakit, jatuh, bangkit, dan bahagia
Mengapa kau memilih datang ?
Mengapa aku memilih menahanmu ?

Baiklah,
Sambil menunggu, aku akan pulang
Hamparan pasir dan deburan ombak tak mau tau
Ada seseorang yang putus asa karna cinta
Ada  seseorang yang mati rasa karna rindu
Aku sibuk dengan rindu dan kesakitanku

Tak apa,
Sakit bisa sembuh
Katamu,


 

THE TRAVEL JUNKIES Template by Ipietoon Cute Blog Design