Jumat, 27 Mei 2016

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangan



Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana. Menikmati suasana pantai dan terhanyut dalam suara deburan ombak. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon cemara, ditemani  matahari dan angin sepoi-sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh-selamanya.


Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari-hari kita, seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan.


Aku rebah di tanah, memejamkan mata kuat-kuat karena air mata yang menderas. “aku tak akan pergi,” bisikmu selirih angin sore, tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti kau benar-benar tiada?

Minggu, 22 Mei 2016

Sedingin apapun engkau



Waktu itu aku memutuskan untuk datang. Rumah ini terasa asing. Sepi. Tak kurasakan kehangatan dan keramaian seperti dulu. Pohon rambutan tempatku bermain kulihat tak berbuah. Pohon-pohon singkong di depan rumah yang menjadi saksi bahwa pada waktu itu bapak masih disini tak lagi ada. hanya ada pemandangan tanah-tanah tandus karna lama tak tersentuh hujan. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Pada saat itu pintu terbuka. Aku memanggil-manggil namamu, tapi tak kutemukan satu orang pun disini. Aku menunggu lama. Waktu itu aku memutuskan untuk pulang saja. Aku putus asa. Saat aku beranjak pulang, aku mendengar suara langkah yang rapuh. Aku berjalan mendekat. Meski pandangan mataku tak lagi bagus, tapi waktu itu sangat jelas bisa melihatmu. Kamu berjalan mendekatiku tapi tak benar-benar melihatku. Ibuku semakin tua, wajahmu keriput, matamu tak lagi seperti dulu. Semakin lama jarak kita semakin dekat, pada saat yang sama pula aku tercekat. aku tak bisa lagi membendung air mataku ketika kita semakin dekat dan kamu bertanya aku siapa. Setelah kau sadar bahwa yang datang adalah anakmu kau tetap sedingin dulu. Kau memaksakan senyummu. Suasana yang kaku. Kau menyuruhku masuk dan duduk. Lalu kau buatkan aku teh hangat. Pada saat yang sama pula aku melihatmu di dapur sedang mengaduk teh sambil menangis. Aku berjalan masuk kamar dan kubuka koper besarmu, saat itu aku lebih menangis ketika yang kulihat pertama adalah fotoku dan adik-adikku. Semua tersimpan rapi dalam satu amplop putih.  Aku kembali duduk di ruang tamu. Kau tetap dingin. Berusaha menahan rindu dan tak percaya anakmu kembali lagi kerumah ini. Dalam diamku aku tetap bersyukur, Allah mengabulkan doaku. Allah menjagamu meski kita terbelah di negara yang berbeda. Allah menciptakan sejuta kerinduan selama belasan tahun. Aku sangat menyayangi, doaku untukmu tak pernah putus. Al-Fatihah selalu kuselipkan di akhir solatku untukmu. Meski aku tak pernah bisa memanggilmu ibu, aku tetap anakmu. meski aku tak bisa setiap hari melihatmu, rindu ini selalu ada. meski aku tak memiliki satu pun gambar dirimu kenanganmu selalu membeku. 

Meski sedingin apapun engkau, kau tetap Ibuku.

Minggu, 15 Mei 2016

KITA DAN PANTAI

Sambil menunggu,
Rindu tak sadar membelenggu
Bukannya kisah cinta seterusnya akan begini ?
Semua tentang rindu, sakit, jatuh, bangkit, dan bahagia
Mengapa kau memilih datang ?
Mengapa aku memilih menahanmu ?

Baiklah,
Sambil menunggu, aku akan pulang
Hamparan pasir dan deburan ombak tak mau tau
Ada seseorang yang putus asa karna cinta
Ada  seseorang yang mati rasa karna rindu
Aku sibuk dengan rindu dan kesakitanku

Tak apa,
Sakit bisa sembuh
Katamu,


 

THE TRAVEL JUNKIES Template by Ipietoon Cute Blog Design