Ketika
cinta harus siap terluka.
Hebat
ya suatu hal yang disebut cinta. Secepat itu membuat kita terbang ke angkasa
dan semudah itu juga menghempaskan kita turun ke bumi. Kemarin aku memutuskan
untuk tetap menantimu seperih apapun itu aku akan tetap menanti. Hei. Kau pikir
siapa kamu? Semudah itu membuat aku benar-benar terluka dan lebih bodohnya lagi
aku siap menerima apapun luka yang kau berikan. Aku memang wanita bodoh yang
benar-benar yakin suatu saat cintamu akan pulang dan kembali lagi disini. Aku
menunggumu. Aku tetap menanti. Bahkan aku selalu memperhatikan senyummu dari
sini, bagaimana kabarmu, bagaimana keaadaanmu, aku selalu berusaha ingin tau.
Kamu hal yang menarik untuk kupahami. Entah harus bagaimana lagi aku mengakui
kebodohanku. Aku menunggumu sementara kau sibuk dengan yang lain. Perih bukan?
Namun kuputuskan aku akan tetap menantimu dan yakin jika cintamu akan kembali
pulang kesini. Sempat aku tersenyum kemarin, dan kali ini aku harus benar-benar
menangis. Cukup membaca kalimatmu
tentang orang yang kausayang itu sudah cukup perih bukan. Terserah, meski kau
sibuk mencari cinta yang lain kau sibuk mencari halte untuk sekedar menjadi
tempat persinggahan aku tak peduli. Yang aku tau aku akan slalu tetap menjadi
rumah kau pulang. Kadang sekelibat rasa itu muncul. Rindu. Senyummu yang khas
cukup membuatku lega, meski bukan untuk aku. Perih memang. Tapi cinta di masa
lalu telah mengajarkanku untuk menikmati perih di setiap langkah yang katanya
akan indah pada waktunya. Cinta di masa lalu juga mengajarkanku bahwa aku tak
boleh melepaskan siapapun orang yang telah menyayangiku dan kali ini aku tak
akan pernah melepasmu. Aku tak pernah takut kehilanganmu, tapi jauh disini aku
sebenarnya takut bahwa cinta yang pernah kautunjukkan kepadaku akan hilang
dengan mudahnya.
“Kau
jauh padahal ada didekatku, mengapa terasa begitu jauh. Padahal kau berada di
depanku. Tersenyum kepadaku. Tapi
mengapa tetap merasa jauh.”
inspired by : sahabat perempuan saya yang slalu sedih senang membicarakan cinta :)